BOLEHKAH AQIQAH KETIKA DEWASA

 

Akikah dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran seorang bayi. Ketentuannya adalah dengan menyembelih dua ekor kambing bagi bayi laki-laki dan satu ekor kambing bagi bayi perempuan. Hukumnya sendiri adalah sunah muakad. Perintah akikah ini ditujukkan kepada bapak dari bayi yang baru lahir tersebut.

Rasulullah Saw bersabda, “seorang anak tergadai oleh akikahnya, disembelih pada hari ketujuh, dicukur, dan diberi nama.” (HR Imam Ahmad, Nas’i, Abu Dawud, Turmudzi dan Ibnu Majah). Melalui hadis ini dapat diketahui bahwa waktu untuk melaksanakan akikah adalah pada hari ketujuh dari kelahiran bayi.

Namun, tidak semua orang mampu untuk melaksanakan akikah pada waktu yang ditentukan tersebut. Di masyarakat adakalanya akikah dilakukan setelah dewasa. Inilah pandangan Islam mengenai akikah ketika dewasa.

Imam Ahmad pernah ditanya oleh Abdul Malik, “bolehkah dia (Abdul Malik) berakikah setelah dewasa?” Ia menjawab, “Saya belum pernah mendengar hadis tentang akikah setelah dewasa sama sekali.” Kemudian Imam Ahmad juga mengatakan, “Siapa yang melakukannya maka itu baik, dan ada sebagian ulama yang mewajibkannya.” (Tuhfatul Maudud:87-88). Itu berarti akikah setelah dewasa itu dibolehkan.

Sedangkan Imam Atha dan Hasan Al Basri mengatakan, dia boleh mengakikahi dirinya sendiri karena akikah itu dianjurkan baginya dan ia tergadai dengan akikahnya. Karena itu, dia dianjurkan untuk membebaskan dirinya.